Selasa, 8 September 2026 Berita Terkini & Terpercaya
Wawasan BaruWawasan Baru
Wawasan Baru - Your source for the latest articles and insights
Beranda Anak Sekarang Belajar Pakai AI, Guru Harus Ubah Ca...

Anak Sekarang Belajar Pakai AI, Guru Harus Ubah Cara Ngajar

Keponakanku ngerjain esai pakai AI dalam 30 detik. Bukan anaknya yang bermasalah — cara kita menilai tugas sekolah yang perlu diubah.

Anak Sekarang Belajar Pakai AI, Guru Harus Ubah Cara Ngajar

Keponakanku kelas 9, dan minggu lalu dia minta tolong dicek tugas esainya soal pahlawan nasional. Baru dua paragraf aku baca, udah kerasa ganjil. Kalimatnya rapi banget, transisinya mulus, diksinya level skripsi. Padahal di grup keluarga dia nulisnya masih model ‘iya om ntar aja’.

Aku tanya baik-baik. Dia ngaku. Satu prompt, tiga puluh detik, kelar.

Yang bikin aku diam agak lama bukan pengakuannya, tapi kalimat setelahnya: ‘Emang salah ya? Kan tetep aku baca dulu sebelum dikumpulin.’ Dan jujur, aku nggak langsung punya jawaban yang enak buat pertanyaan itu.

Ini Bukan Soal Anak yang Malas

Reaksi pertama orang dewasa biasanya seragam: anak zaman sekarang manja, maunya serba instan, nggak mau mikir. Aku ngerti kenapa kesimpulannya ke situ. Tapi buatku itu diagnosis yang kelewat gampang — dan justru karena gampang, dia nggak menyelesaikan apa-apa.

Coba pindah sebentar ke kursi mereka. Tugas numpuk dari lima mata pelajaran dalam satu minggu, hampir semuanya minta esai 500 kata, dan hampir semuanya dinilai dari hal yang sama: rapi nggak tulisannya, lengkap nggak strukturnya, ada nggak pendahuluan-isi-penutupnya. Lalu tiba-tiba muncul alat gratis yang bisa memenuhi seluruh kriteria itu dalam hitungan detik, bisa diakses dari HP yang memang udah ada di kantong. Kalau jalan pintasnya selebar tol dan nggak ada penjaganya, ya wajar dilewatin.

Menurutku masalahnya lebih banyak ada di bentuk soalnya. Kita kelamaan menilai wujud akhir, bukan proses. Selama yang dinilai cuma teks jadi, alat yang memang jago memproduksi teks pasti menang telak.

Kenapa Melarang Total Jarang Berhasil

Beberapa sekolah ambil jalan paling cepat: blokir, larang, ancam nilai nol kalau ketahuan. Aku paham motivasinya dan aku nggak menganggap itu niat jahat. Cuma dari yang aku amati, hasilnya jarang sesuai harapan.

Tiga alasan larangan biasanya mental

  • Alat deteksinya belum bisa dipercaya. Detektor AI masih sering salah tuduh. Anak yang nulis sendiri tapi kebetulan gaya bahasanya formal bisa kena tuduh, sementara yang benar-benar nyalin tinggal minta ditulis ulang dengan gaya santai — lolos. Menuduh anak jujur itu kerusakannya jauh lebih dalam daripada meloloskan satu tugas contekan.
  • Adaptasi mereka lebih cepat dari kebijakannya. Sekolah butuh rapat, notulen, sosialisasi, surat edaran. Anak-anak butuh satu grup WhatsApp buat saling kasih tahu trik baru.
  • Larangan nggak mengajarkan apa pun. Anak yang dilarang tanpa penjelasan cuma pulang membawa satu pelajaran, dan pelajaran itu bukan integritas.
Melarang tanpa menjelaskan cuma melatih anak jadi lebih rapi menyembunyikan, bukan lebih jujur mengerjakan.

Lagipula, lima tahun lagi anak-anak ini masuk dunia kerja yang justru menuntut mereka bisa memakai alat semacam itu dengan benar. Melatih mereka pura-pura AI nggak ada rasanya kayak melarang murid pakai kalkulator karena takut mereka lupa cara ngitung di kertas.

Bikin Tugas yang Nggak Bisa Dikerjakan AI Sendirian

Ini bagian yang menurutku paling masuk akal dikerjakan sekarang, dan kabar baiknya nggak butuh anggaran, nggak butuh pelatihan berminggu-minggu. Cuma butuh guru mau ngubah bentuk pertanyaannya.

AI itu kuat di hal umum dan lemah di hal spesifik yang cuma ada di sekitar si anak. Dia bisa jelasin Perang Diponegoro dengan sangat meyakinkan. Tapi dia nggak tahu berapa harga beras di pasar dekat rumah kamu, nggak tahu cerita nenek kamu soal listrik yang baru masuk kampung tahun berapa, dan nggak tahu kenapa lapangan di depan sekolah kamu sekarang berubah jadi ruko.

Contoh yang pernah aku lihat beneran jalan

Ada guru sejarah — temannya kakakku — yang ngasih tugas begini: wawancarai satu orang di rumah yang usianya di atas 50 tahun, tanya apa yang berubah di lingkungan kalian sejak mereka seumuran kamu, lalu hubungkan dengan materi bab ini. Kumpulkan rekaman suaranya sekalian.

Hasilnya menarik. Esainya jelas nggak serapi buatan mesin, banyak kalimat patah, ada yang typo di mana-mana. Tapi isinya hidup. Ada anak yang nulis soal kakeknya yang dulu jalan kaki 7 kilometer ke sekolah dan sekarang nggak percaya cucunya ngeluh gara-gara ojek online telat lima menit. Itu nggak bisa dibikin lewat prompt.

Bentuk lain yang juga efektif dan gampang ditiru:

  • Nilai draft-nya, bukan cuma hasil akhirnya. Minta dikumpulkan bertahap: kerangka dulu, baru isi.
  • Tambahin sesi lisan lima menit. Anak yang benar-benar ngerti tulisannya bakal santai ditanya, yang nyalin bakal langsung keliatan.
  • Bolehkan pakai AI, tapi wajib lampirkan percakapannya dan tulis apa yang dia ubah dari jawaban mesin. Ini malah melatih berpikir kritis.
  • Minta mereka mengoreksi jawaban AI yang sengaja salah. Percaya deh, ini lebih susah daripada nulis dari nol.

Rumah Juga Punya Bagian di Sini

Nggak adil kalau semua beban ditaruh di guru. Di rumah, kita — aku, kamu, siapa pun yang punya anak atau keponakan — punya kebiasaan yang tanpa sadar mendorong mereka cari jalan pintas.

Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut kita pas anak pulang biasanya apa? Dapat nilai berapa. Ranking berapa. Nggak pernah: hari ini kamu belajar sesuatu yang bikin kamu penasaran nggak?

Kalau yang kita hargai cuma angkanya, jangan heran anak akan mengejar angka dengan cara termurah yang tersedia. Mereka rasional kok, cuma mengikuti sinyal yang kita kasih.

Aku sendiri sempat kena tegur soal ini. Waktu keponakanku cerita dia habis dua jam benerin tugas prakarya yang gagal terus, respons pertamaku malah, ‘terus jadinya nilainya gimana?’ Padahal bagian dua jam itu yang seharusnya aku puji.

Yang Realistis Kita Mulai dari Sekarang

Aku nggak percaya ada satu kebijakan besar yang bisa menyelesaikan ini dalam semalam. Kurikulumnya udah berubah berkali-kali dan masalah dasarnya masih itu-itu juga: kita masih ngukur pendidikan dari tumpukan kertas yang dikumpulkan, bukan dari apa yang benar-benar nempel di kepala anak.

Tapi satu guru yang mau ngubah bentuk satu tugas, itu udah gerakan nyata buat tiga puluh anak di kelasnya. Satu orang tua yang ganti pertanyaan dari ‘nilainya berapa’ jadi ‘gimana kamu ngerjainnya’, itu udah cukup buat satu anak.

Soal keponakanku tadi, akhirnya esainya nggak jadi dikumpulkan yang versi mesin. Kami duduk bareng, dia cerita dulu apa yang dia tahu soal tokoh itu pakai bahasanya sendiri, aku ketik poin-poinnya, terus dia tulis ulang. Hasilnya berantakan, kalimatnya panjang-panjang aneh. Nilainya juga biasa aja.

Tapi pas aku tanya seminggu kemudian, dia masih inget isinya. Yang versi tiga puluh detik? Boro-boro.

Tags: pendidikan kecerdasan buatan teknologi pendidikan tips belajar parenting

Baca Juga: Rasa Nusantara Koto