Selasa, 8 September 2026 Berita Terkini & Terpercaya
Wawasan BaruWawasan Baru
Wawasan Baru - Your source for the latest articles and insights
Beranda Literasi Keuangan di Sekolah: Pelajaran Penting ya...

Literasi Keuangan di Sekolah: Pelajaran Penting yang Terlewat

Sekolah ngajarin banyak hal, tapi jarang nyentuh cara ngatur uang. Padahal literasi keuangan itu bekal hidup yang kepake setiap hari.

Literasi Keuangan di Sekolah: Pelajaran Penting yang Terlewat

Coba deh ingat-ingat masa sekolah dulu. Kita hafal rumus luas trapesium, nama-nama planet, sampai tahun berdirinya Kerajaan Majapahit. Tapi pernah nggak, ada satu jam pelajaran pun yang ngajarin cara bikin anggaran bulanan, cara kerja bunga pinjaman, atau kenapa paylater bisa bikin kantong jebol pelan-pelan?

Aku pribadi baru sadar soal ini pas terima gaji pertama. Uang masuk tanggal 25, eh tanggal 10 bulan berikutnya udah tinggal recehan. Padahal nggak beli barang mahal, nggak liburan, nggak apa-apa. Uangnya kayak menguap begitu aja. Dan yang bikin nyesek, aku nggak bisa nyalahin siapa-siapa. Dua belas tahun sekolah plus kuliah, nggak ada satu pun yang ngajarin cara pegang uang.

Kenapa Sekolah Jarang Nyentuh Soal Uang

Kalau dipikir-pikir, ini aneh banget. Uang itu hal yang bakal kita urus setiap hari seumur hidup. Nggak semua orang bakal pakai integral atau tabel periodik setelah lulus, tapi semua orang pasti berurusan sama gaji, cicilan, tabungan, dan tagihan. Kok justru yang paling kepake malah nggak diajarin?

Salah satu alasannya, kurikulum kita memang padat luar biasa. Guru udah kewalahan ngejar target materi, mana sempat nambah topik baru. Ekonomi memang ada sebagai mata pelajaran, tapi isinya lebih banyak teori makro — inflasi, kebijakan moneter, kurva permintaan. Bagus sih buat wawasan, tapi nggak menjawab pertanyaan paling dasar: gimana caranya biar gaji cukup sampai akhir bulan?

Ada juga faktor budaya. Di banyak keluarga Indonesia, ngomongin uang itu dianggap tabu atau nggak sopan. Anak nanya gaji orang tua dibilang lancang. Akhirnya anak tumbuh besar dengan gambaran uang yang serba kabur — tahunya uang itu ada, tapi nggak paham dari mana datangnya dan gimana ngelolanya.

Dampaknya Kerasa Pas Udah Dewasa

Ini bukan sekadar keluhan pribadi. Survei OJK tahun 2024 nunjukin indeks literasi keuangan kita masih di kisaran 65 persen, sementara indeks inklusi keuangannya lebih tinggi. Artinya apa? Banyak orang yang udah punya akses ke produk keuangan — rekening, kartu kredit, pinjaman online — tapi belum paham cara pakainya dengan bener. Ibarat dikasih motor tanpa pernah diajarin nyetir.

Makanya jangan heran kalau kasus orang terjerat pinjol ilegal terus bermunculan. Korbannya bukan cuma orang yang nggak sekolah, lho. Banyak yang sarjana, kerja kantoran, tapi tetap kejebak karena nggak paham konsep sederhana kayak bunga berbunga.

Kita diajarin cara cari nilai bagus, tapi nggak pernah diajarin cara ngelola hasil kerja keras kita sendiri.

Gaji Pertama dan Jebakan Gaya Hidup

Fase paling rawan itu justru awal-awal kerja. Gaji pertama rasanya kayak kebebasan — akhirnya punya uang sendiri! Terus mulai deh, ngopi cantik tiap hari, upgrade gadget, nongkrong tiap weekend. Semuanya kelihatan wajar karena teman-teman juga gitu.

Masalahnya, kebiasaan yang kebentuk di lima tahun pertama kerja itu susah banget diubah. Kalau dari awal nggak punya pondasi soal nabung dan dana darurat, umur 30-an baru kerasa akibatnya. Dan di titik itu, belajarnya jadi lebih mahal — bayarnya pakai stres dan utang.

Mulai dari Rumah, Nggak Perlu Nunggu Kurikulum

Berharap kurikulum berubah dalam waktu dekat? Boleh aja, tapi jangan jadi alasan buat nunggu. Kabar baiknya, literasi keuangan itu justru paling efektif diajarin di rumah, lewat kebiasaan sehari-hari. Nggak perlu jadi ahli finansial dulu kok buat mulai.

Cara Sederhana yang Bisa Dicoba

Beberapa hal ini kelihatannya sepele, tapi dampaknya panjang:

  • Uang saku mingguan, bukan harian. Anak jadi belajar ngatur jatah sendiri. Kalau habis di hari ketiga, ya dia ngerasain sendiri konsekuensinya — dan itu pelajaran yang nggak bisa digantikan ceramah.
  • Sistem tiga pos: jajan, nabung, berbagi. Konsep budgeting paling dasar, dan anak SD pun bisa paham.
  • Ajak anak belanja dengan budget. Kasih dia tanggung jawab milih belanjaan dengan uang terbatas. Di situ dia belajar bandingin harga dan bikin prioritas.
  • Terbuka soal keputusan keuangan keluarga. Nggak harus buka-bukaan angka gaji, tapi jelasin kenapa bulan ini nggak jadi makan di luar, atau kenapa nabung dulu sebelum beli barang. Anak belajar bahwa uang itu soal pilihan, bukan soal ada atau nggak ada.

Buat yang udah dewasa dan ngerasa telat? Tenang, aku juga mulai dari nol kok. Langkah pertamaku dulu cuma nyatet pengeluaran selama sebulan penuh. Kaget banget pas lihat totalnya — ternyata ngopi dan jajan online-ku sebulan setara cicilan motor. Kesadaran itu udah setengah jalan. Sisanya tinggal pelan-pelan dibenerin.

Bekal yang Nggak Bakal Muncul di Rapor

Nilai matematika 9 itu membanggakan. Tapi jujur aja, kemampuan nahan diri buat nggak checkout barang yang nggak perlu itu jauh lebih berguna buat hidup. Sayangnya yang kedua nggak pernah masuk rapor, jadi nggak pernah dianggap prestasi.

Pendidikan yang bagus harusnya nyiapin anak buat hidup, bukan cuma buat ujian. Dan hidup, suka nggak suka, penuh sama keputusan soal uang. Selama sekolah belum bisa ngisi celah ini, tugas kita — sebagai orang tua, kakak, atau bahkan buat diri sendiri — buat mulai belajar dan ngajarin.

Nggak ada kata terlambat buat melek finansial. Yang ada cuma dua pilihan: belajar sekarang dengan santai, atau belajar nanti karena terpaksa. Kalau kamu, pilih yang mana?

Tags: literasi keuangan pendidikan keuangan pribadi parenting sekolah

Baca Juga: infortune-ae.com